Pulau Kalimantan sering dijuluki sebagai paru-paru dunia karena luasnya hamparan hutan hujan tropis yang menyelimuti daratannya. Namun, tantangan besar kini dihadapi oleh wilayah Kalimantan Selatan, di mana degradasi lahan akibat aktivitas tambang dan perkebunan telah mengancam keanekaragaman hayati yang ada. Menyadari hal tersebut, sebuah misi ambisius bertajuk Lintas Borneo dicanangkan oleh komunitas motor besar untuk menembus jantung rimba demi melakukan aksi pemulihan ekosistem. Perjalanan ini bukan sekadar petualangan di atas aspal, melainkan sebuah komitmen nyata untuk mengembalikan kejayaan alam Borneo.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah melakukan Restorasi pada area-area yang telah kehilangan fungsi hutan aslinya. Para pengendara motor besar ini bekerja sama dengan balai konservasi setempat untuk menanam jenis pohon endemik Kalimantan, seperti ulin dan meranti, yang kini keberadaannya mulai langka. Membawa bibit pohon menggunakan motor di medan tanah Kalimantan yang menantang bukanlah perkara mudah. Namun, para rider ini melihatnya sebagai tantangan yang sepadan untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa melihat rimbunnya hutan hujan yang menjadi identitas kebanggaan masyarakat lokal di Kalimantan Selatan.
Keterlibatan HDCI dalam proyek di Kalimantan Selatan ini memberikan dampak yang luas, terutama dalam menarik perhatian publik terhadap isu lingkungan di pedalaman. Dengan melakukan dokumentasi di sepanjang perjalanan, para pengendara ini memperlihatkan kontras antara keindahan hutan yang masih tersisa dengan lahan-lahan yang telah rusak. Kampanye ini bertujuan untuk menggugah kesadaran kolektif bahwa perlindungan Hutan Hujan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Melalui kehadiran mereka, komunitas ini juga memberikan dukungan moral bagi para penjaga hutan yang setiap hari berjuang di garis depan melawan pembalakan liar.
Aksi yang dilakukan di wilayah Kalsel ini juga menyasar pada edukasi ekonomi berkelanjutan bagi warga pinggiran hutan. Para rider mengajak masyarakat untuk tidak lagi bergantung pada ekstraksi kayu, melainkan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti madu hutan dan tanaman hias endemik. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari hutan yang tetap berdiri, diharapkan tekanan terhadap lahan hutan akan berkurang secara perlahan. Sinergi antara komunitas motor dan penduduk lokal ini menciptakan benteng pertahanan sosial yang kuat untuk menjaga area restorasi agar tidak kembali dirusak oleh oknum-pelaku yang tidak bertanggung jawab.
