Di sebuah sudut kota Banjar yang tenang, terdapat sebuah bengkel kecil dengan aroma oli dan besi tua yang menyengat. Di sana, hidup seorang pria paruh baya yang oleh komunitas otomotif setempat dijuluki sebagai The Last Samurai. Julukan ini bukan tanpa alasan; ia adalah salah satu dari segelintir ahli mesin yang masih memegang teguh prinsip-prinsip mekanik tradisional di tengah gempuran teknologi modern. Keahliannya dalam mendiagnosis kerusakan hanya melalui pendengaran telah menjadikannya legenda hidup bagi para kolektor motor besar di Jawa Barat dan sekitarnya.
Namun, ada sebuah prinsip unik yang membuat namanya semakin mencuat sekaligus menjadi perdebatan, yaitu keputusannya sebagai Mekanik Tua yang memiliki idealisme sangat spesifik. Di bengkelnya, Anda tidak akan menemukan pemindai komputer atau perangkat lunak canggih yang biasa digunakan untuk mendiagnosis motor keluaran terbaru. Ia adalah sosok yang secara terang-terangan Menolak Memperbaiki kendaraan yang sudah sepenuhnya dikontrol oleh sistem komputerisasi. Baginya, mesin motor seharusnya menjadi sesuatu yang bisa dipahami secara mekanis melalui sentuhan tangan dan intuisi, bukan melalui kode-kode digital yang dingin.
Fokus penolakannya secara khusus tertuju pada unit-unit Moge Injeksi yang kini mendominasi pasar global. Sang “Samurai” berpendapat bahwa teknologi injeksi memang memberikan efisiensi dan kemudahan, namun ia merasa teknologi tersebut telah merampas jiwa dari sebuah mesin. Menurutnya, ketika sebuah motor bergantung sepenuhnya pada sensor dan modul elektronik, maka hubungan batin antara pemilik, mekanik, dan motor itu sendiri menjadi hilang. Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu berhari-hari menyetel karburator secara manual hingga mendapatkan irama ledakan mesin yang sempurna, daripada hanya menekan tombol pada layar laptop.
Para pelanggan yang datang ke tempatnya biasanya adalah pemilik motor klasik yang sudah putus asa mencari bantuan di bengkel resmi. Di tangan dinginnya, mesin-mesin tua yang sudah mati puluhan tahun bisa kembali meraung dengan gagah. Ketelitiannya dalam mengerjakan komponen internal mesin sangat luar biasa; ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memastikan celah katup berada pada ukuran yang tepat. Keahlian ini merupakan warisan masa lalu yang kini mulai punah, seiring dengan peralihan kurikulum pendidikan otomotif yang lebih mengedepankan penggantian modul elektronik daripada perbaikan komponen.
